Kerentanan DAS Cikeas ditinjau dari perspektif sosial ekonomi dan kelembagaan

  • Kunandar Prasetyo Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB University, Bogor, Indonesia
  • Hefni Effendi 1) Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB University, Bogor, Indonesia; 2) Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB University, Bogor, Indonesia
  • Gatot Prayoga Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB University, Bogor, Indonesia
  • Andrian Rizaldy Azhar Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB University, Bogor, Indonesia
  • Tri Permadi Pusat Penelitian Lingkungan Hidup, IPB University, Bogor, Indonesia
  • Dewanti Pratiwi Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jakarta, Indonesia
Kata Kunci: DAS Cikeas, kerentanan, sosial ekonomi, kelembagaan

Abstrak

Penelitian bertujuan menentukan tingkat kerentanan DAS Cikeas dilihat dari aspek sosial ekonomi dan kelembagaan. Metode pengumpulan data primer menganut purposive sampling dan snowball sampling. Data sekunder didapat dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Ciliwung Cisadane dan Badan Pusat Statistik (BPS). Analisis data menggunakan analisis deskriptif kuantitatif berdasarkan formulasi Sistem Karakterisasi Tingkat DAS (Tipologi DAS). Tingkat kerentanan DAS Cikeas ditinjau dari aspek sosial (kepadatan penduduk dan nilai tradisional) terkategori sangat tinggi (sangat rentan). Perilaku konservasi termasuk tidak rentan dan agak rentan. Pada aspek ekonomi, mayoritas kecamatan di wilayah DAS Cikeas tergolong agak rentan. Sektor ekonomi dominan berupa jasa. Ditinjau dari aspek kelembagaan, tergolong tidak rentan dan agak rentan karena kelembagaan formal dan informal ada yang telah berperan aktif dalam aktivitas konservasi DAS Cikeas. Permasalahan DAS berkaitan dengan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan. Dengan demikian, keterlibatan masyarakat dan stakeholder terkait lainnya dalam perencanaan, perumusan, pelaksanaan kebijakan DAS sangat diperlukan untuk mencapai pengelolaan DAS berkelanjutan.

##plugins.generic.usageStats.downloads##

##plugins.generic.usageStats.noStats##

Referensi

[BPS] Badan Pusat Statistik Kabupaten Bogor. 2019. Kabupaten Bogor dalam angka 2019. BPS Kabupaten Bogor. Bogor.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Bekasi. 2019. Kota Bekasi dalam angka 2019. BPS Kota Bekasi. Bekasi.
[BPS] Badan Pusat Statistik Kota Depok. 2019. Kota Depok dalam angka 2019. BPS Kota Depok. Depok.
Du Y, Wang X, Brombal D, Moriggi A, Sharpley A and Pang S. 2018. Changes in
environmental awareness and its connection to local environmental
management in water conservation zones: the case of Beijing, China.
Sustainability 10(6):1-24.
Ekawaty R, Yonariza, Ekaputra EG and Arbain A. 2018. Telaahan daya dukung dan daya tampung lingkungan dalam pengelolaan kawasan daerah aliran sungai di Indonesia. Journal of Applied Agricultural Science and Technology 2(2):30-40.
Goldshleger N, Ben-Dor E, Lugassi R and Eshel G. 2010. Soil degradation monitoring by remote sensing: examples with three degradation processes. Soil Science Society of American Journal 74:1433-1445.
Komaruddin N. 2008. Penilaian tingkat bahaya erosi di sub daerah aliran Sungai Cileungsi, Bogor. Jurnal Agrikultura 19(3):173-178.
Paimin, Pramono IB, Purwanto dan Indrawati DR. 2012. Sistem perencanaan pengelolaan daerah aliran sungai. Pusat Penelitian dan Pengembangan Konservasi dan Rehabilitasi. Bogor
PerDa (Peraturan Daerah) Kabupaten Bogor Nomor 6 Tahun 2016 tentang pengelolaan lingkungan hidup.
PerMenLH (Peraturan Menteri Lingkungan Hidup) Nomor 1 Tahun 2010 tentang tata laksana pengendalian pencemaran.
Prasetyo K, Prayoga G, Azhar AR, Permadi T dan Pratiwi D. 2020. Kerentanan DAS Kali Bekasi ditinjau dari aspek sosial-ekonomi-kelembagaan. Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan 4(3):576-591.
Siswadi, Taruna T dan Purnaweni H. 2011. Kearifan lokal dalam melestarikan mata air. Jurnal Ilmu Lingkungan 9(2):63-68.
Sudaryono. 2002. Pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) terpadu, konsep pembangunan berkelanjutan. Jurnal Teknologi Lingkungan 3(2):153-158.
Sugiyono. 2016. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan R&D. PT Alfabet. Bandung.
Suparjo MN. 2009. Kondisi pencemaran perairan Sungai Babon Semarang. Jurnal Saintek Perikanan 4(2):38-45.
Susilowati W, Damianto B, Nadjam A dan Nurhayati I. 2012. Peran serta masyarakat dalam meningkatkan kualitas lingkungan daerah aliran Sungai Ciliwung. Poli-Teknologi 11(1):55-64.
Symeonakis E, Calvo-Cases A and Arnau-Rosalen E. 2007. Land use change and land degradation in Southeastern Mediterranean Spain. Environmental Management 40:80-94.
Tafangenyasha C and Dzinomwa T. 2005. Land-use Impacts on river water quality in lowveld sand river systems in South-East Zimbabwe. Land Use and Water Resources Research 5:3.1-3.10.
Diterbitkan
2021-12-27
##submission.howToCite##
Prasetyo, K., Effendi, H., Prayoga, G., Azhar, A., Permadi, T., & Pratiwi, D. (2021). Kerentanan DAS Cikeas ditinjau dari perspektif sosial ekonomi dan kelembagaan. Jurnal Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan (Journal of Environmental Sustainability Management), 5(2), 684-698. https://doi.org/https://doi.org/10.36813/jplb.5.2.684-698
Bagian
Articles